ï»żDenganbiaya yang berbeda-beda tentunya di beberapa wilayah di Indonesia untuk masuk di Pondok Pesantren Al Khairaat Sulawesi, Kalimantan Selatan, hingga DKI Jakarta. Semoga informasi ini dapat memberikan sedikit refrensi bagi anda yang memang saat ini sedang memilih pesantren terbaik di Indonesia yang terlihat banyak cabang pendidikannya. Pesantren atau ponpes pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan Islam berbasis masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan diniyah atau secara terpadu dengan jenis pendidikan lainnya.[1] Nah, salah satu ponpes yang cukup populer karena biaya pendidikannya relatif terjangkau dan syarat pendaftaran yang mudah adalah Pondok Pesantren Walisongo Ngabar. Asama putri Ponpes Walisongo Ngabar sumber Pondok Pesantren Walisongo Ngabar Pondok Ngabar terletak di Desa Ngabar, Siman, Kabupaten Ponorogo. Secara resmi, ponpes ini didirikan pada 4 April 1961 oleh KH Mohammad Toyyib yang sudah wafat pada 1963. Dalam mendirikan pesantren, ia dibantu kedua putranya, yakni KH Ibrahim Toyyib dan KH Ahmad Toyyib. Pemilihan nama Wali Songo pada ponpes dilandasi dengan harapan supaya para santri dapat mewarisi semangat dakwah Wali Songo dalam mengislamkan Tanah Jawa. Selain itu, diharapkan para santri mampu meneladani metode dakwahnya, sehingga Islam dapat membumi, mampu berdampingan dengan budaya lokal, humanis, dan damai. Harapan tersebut kemudian diperkuat dengan adanya sosok Kiai Ibrahim yang menerapkan dakwah kultural dan humanis dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat di sekitar pesantren. Menurut beliau, dakwah Islam harus dilakukan dengan cara yang halus tanpa paksaan atau kekerasan. Saat ini, Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar menyediakan kuota santri baru tingkat Tarbiyatul Mu’allimin/Mu’allimat al-Islamiyyah. Ini adalah pendidikan khusus Islam setingkat MTs dan MA dengan kuota 250 orang untuk setiap jenjang. Ponpes ini hanya membuka pendaftaran untuk kuota asrama karena kelas non-asrama sudah ditiadakan. Mengalami perkembangan dari tahun ke tahun, hingga kini Pondok Pesantren Walisongo Ngabar sudah memiliki fasilitas lengkap dan beberapa terbilang mewah untuk kelas ponpes. Fasilitas publik ini dibuat supaya para santri betah dan termotivasi dalam mengemban ilmu agama Islam maupun akademik. Berikut fasilitas Pondok Pesantren Walisongo Ngabar. Fasilitas Pondok Pesantren Walisongo Ngabar Asrama Sunan Ampel asrama putra dengan 18 kamar dan kantor majelis pembimbing santri. Asrama Madinah asrama putra yang diperuntukkan bagi santri baru kelas 1. Asrama Fatimah Az-Zahra asrama putri untuk santri baru kelas 1. Asrama Siti Hajar asrama putri 3 lantai dengan 12 kamar. Olahraga lapangan basket, voli, futsal, dan sepakbola. Kantor & hall sebagai fasilitas penunjang belajar mengajar siswa sekaligus tempat silaturahmi wali santri. Ngabar Laundry tempat untuk mencuci baju bagi para santri yang dilengkapi dengan mesin cuci dan pengering berkapasitas besar. Ngabar Food Production sebagai dapur sekaligus pusat produksi makanan untuk para santri. Restroom merupakan tempat cuci, kamar mandi, toilet, dan area menjemur pakaian yang terbagi menjadi dua, yakni khusus putra dan putri. Dengan fasilitas yang sangat lengkap, pastinya para santri akan betah tinggal di Pondok Pesantren Walisongo Ngabar. Lalu, apa saja syarat pendaftaran menjadi santri di ponpes tersebut? Berikut rinciannya. Masjid Ponpes Walisongo Ngabar sumber detikSyarat Pendaftaran Pondok Pesantren Walisongo Ngabar Menyiapkan biaya pendaftaran. Menyiapkan fotokopi KTP Ayah dan Ibu. Menyiapkan fotokopi KK kartu keluarga menyiapkan fotokopi akta kelahiran. Menyiapkan scan KTP ayah dan ibu asli. Menyiapkan scan KK kartu keluarga asli. Menyiapkan scan akta kelahiran asli. Surat keterangan lulus/rapor terakhir. Surat keterangan sehat dari dokter. Foto 3 x 4 putri berjilbab putih segi empat, putra berdasi hitam kemeja putih. Alur Pendaftaran Pondok Pesantren Walisongo Ngabar Membuat akun pendaftaran dan mengisi data. Melengkapi data pendaftaran secara online di Membayar biaya pendaftaran Melakukan tes kepribadian secara online dan mengisi formulir hasil tes kepribadian. Melakukan tes tulis pemetaan akademik. Interview santri dan wali. Tes akademik online. Pengumuman kelulusan. Daftar ulang. Pemberkasan offline. Selain melengkapi persyaratan pendaftaran di atas, untuk menjadi santri Pondok Pesantren Walisongo Ngabar, Anda harus membayar biaya pendidikannya. Sayangnya, saat dihubungi, pihak ponpes belum merilis data resmi biaya masuknya untuk tahun ajaran 2023/2024. Sebagai acuan, berikut kami rinci biaya masuk Pondok Pesantren Walisongo Ngabar tahun ajaran 2022/2023 lalu. Kegiatan Pondok Pesantren Walisongo Ngabar sumber Ngabar TVBiaya Pondok Pesantren Walisongo Ngabar Komponen Biaya Pondok Pesantren Walisongo Ngabar Biaya Pendaftaran Registrasi Santri Putra Santri Putri informasi biaya Pondok Pesantren Walisongo Ngabar di atas kami rangkum dari situs resminya. Sebagai perbandingan, tahun ajaran 2021/2022, biaya registrasi santri putra sebesar Rp7,37 juta, sedangkan biaya registrasi santri putri sebesar Rp7,87 juta. Biaya tersebut sudah mencakup infaq pengembangan institusi, SPP bulan pertama, kasur, lemari, kain seragam, buku pelajaran, dan kebutuhan dasar lainnya. Jadwal Pendaftaran Pondok Pesantren Walisongo Ngabar TA 2023/2024 Kegiatan Tanggal Pendaftaran 1 November – 31 Desember 2022 Ujian Seleksi TPA dan Wawancara di PPWS Ngabar 8,14,15 Januari 2023 Ujian Seleksi TPA dan Wawancara di Depok, Palembang, Pangkalan Bun, Lombok, Palu 22 Januari 2023 Untuk informasi lebih jelas mengenai pendaftaran Pondok Pesantren Walisongo Ngabar, Anda bisa langsung ke lokasi, mengunjungi websitenya di laman atau menghubungi panitia penerimaan santri baru melalui telepon di nomor 0813 3807 9629 putra dan 0852 3365 1747 putri. [Update Ditta] [1] Paturohman, Irfan. 2012. Peran Pendidikan Pondok Pesantren dalam Perbaikan Kondisi Keberagamaan di Lingkungannya Studi Deskriptif pada Pondok Pesantren Dar Al-Taubah, Bandung. Jurnal Tarbawi, Vol. 11 65-74. Pos terkaitSyarat & Update Biaya Pembuatan Kartu Kuning AK-1Update Harga Diva Family Karaoke Cabang MalangUpdate Biaya Kursus Bahasa Jepang di JakartaBiaya Homeschooling di Malang TA 2023/2024Pendaftaran dan Biaya S3 BINUS University TA 2023/2024Update Harga Tiket Bus Murni Jaya MenurutCEO Koperasi Pesantren Al Ittifaq, Setia irawan, saat ini sekitar 70 pesantren sudah bergerak di bidang pertanian. Banyak pesantren memilih pertanian karena potensinya memang ada di pertanian "Ini jadi konsen pesantren. Ketika pesantren melahirkan santri, apakah semuanya akan menjadi ulama, kan tidak," ujar Setia. JAKARTA - Menjadi santri di pondok pesantren sering dibayangkan hanya berkutat dengan ilmu agama dan kegiatan mengaji Al Quran dari pagi hingga malam di Pondok Pesantren Al Ittifaq di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, para santri tidak hanya diajari mengaji ataupun belajar ilmu agama, sebaliknya mereka dibina dengan kemampuan usaha terutama di sektor pertanian atau saat ini dari usaha agribisnis yang dilakukan para santri tersebut mampu memasok produk sayur-mayur ke pasar-pasar modern di Bandung hingga ke luar wilayah bahkan ke saat ini sudah dikatakan sukses sebagai Unit Usaha Agribisnis namun keberhasilan pondok pesantren yang didirikan KH Mansyur pada 1 Februari 1934 dalam mengembangkan usaha agribisnis tersebut tidaklah diraih dalam waktu yang singkat dan tanpa perjuangan. Pada awalnya Pondok Pesantren Al Ittifaq tergolong ke dalam jenis pondok pesantren Salafiyah tradisional/non sekolah. Sistem pendidikan yang diterapkan saat itu cukup kolot di mana para santri diharamkan belajar menulis latin, tidak boleh kenal dengan pejabat pemerintah karena dianggap penjajah, tidak diperbolehkan membuat rumah dari tembok, tidak bolah ada alat elektronika seperti radio, televisi, 1953 kepemimpinan diteruskan oleh H Rifai hingga wafatnya pada 1970 yang kemudian dipegang oleh KH Fuad Affandi cucu KH Mansyur hingga pendidikan yang seadanya menyebabkan perkembangan amat sangat lamban bahkan cenderung berjalan di tempat, ditambah keengganan untuk membuka diri dan kurangnya pengetahuan mengenai potensi laun KH Fuad Affandi menerapkan pendidikan yang lebih modern, sejak 1970 mencoba memadukan antara kegiatan keagamaan dengan kegiatan usaha pertanian atau agribisnis di pesantren yang terletak di Kampung Ciburial, Desa Alamendah, Kecamatan Ciburial untuk mengembangkan usaha agribisnis tersebut menurut Fuad Affandi karena sesuai dengan potensi alam yang ada di sekitar pesantren yakni wilayah pegunungan berhawa itu dirinya menilai sektor pertanian sesungguhnya merupakan berkat yang paling besar karena sektor ini mampu menghidupi beratus-ratus makhluk hidup dari mulai serangga, binatang hingga manusia."Di muka bumi ini tak ada pekerjaan yang paling mudah selain bertani, karena tak membutuhkan syarat-syarat khusus dan siapapun boleh melakukannya. Kenapa ini disia-siakan," juga berpendapat sekrisis apapun ekonomi bangsa ternyata yang paling aman adalah kegiatan yang dirintis pimpinan pesantren yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar SD itu ternyata membuahkan hasil nyata, kegiatan usaha pertanian berlangsung hingga saat ini bahkan menjadi tulang punggung kegiatan menjalani pendidikannya santri Pondok Pesantren Al Ittifaq yang datang dari berbagai pelosok di Tanah Air, yang mayoritas dari golongan ekonomi rendah, fakir miskin dan anak yatim piatu tidak dipungut biaya."Untuk keperluan makan, kesehatan dan kebutuhan sehari-hari dipenuhi dari hasil usaha pertanian yang dikelola para santri," kata KH Fuad pesantren Al Ittifaq dalam melaksanakan kegiatan agribisnisnya melibatkan para santri sehingga mereka selain dibekali ilmu agama juga ilmu karena itu banyak almuni santri juga melakukan usaha dalam bidang agribisnis dan umumnya usaha yang dilakukan di pesantren tersebut memiliki dampak ganda terhadap proses pendidikan, selain sebagai sarana pemenuhan kebutuhan warga pesantren juga menekan biaya produksi sehingga produk yang dihasilkan dapat memiliki nilai keunggulan kompetitif dan komparatif serta menjadi laboratorium bagi penumbuh kembang jiwa mandiri dan wirausaha itu sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan PP Al Ittifaq yakni mencetak santri yang berakhlak mulia, mandiri dan berjiwa ini pondok pesantren Al Ittifaq resmi sebagai Unit Klinik KOnsultasi AGribisnis diantaranya Pusat Inkubator Agribisnis, merupakan tempat inkubasi untuk meningkatkan kemandirian usaha kecil sebagai pemula menjadi usaha yang lebih tempat pelatihan agribisnis bagi para santri dan masyarakat tani sekitarnya juga para petani maupun UKM dari beberapa wilayah dan dinas agribisnis yang dilakukan ponpes tersebut yakni memproduksi sayuran dataran tinggi untuk memenuhi permintaan pasar tradisional maupun pasar modern dan komoditas Jumlah komoditas yang diproduksi sekitar 25 jenis sayuran antara lain buncis, kentang, daun bawang, tomat, cabe hijau, paprika, sawi putih, lobak, seledri, kacang merah, wortel dan jagung komoditas sayuran yang siap untuk konsumen pasar sawalayan dan pasar modern melalui sortasi, grading, packing, wrifing dan labeling sesuai permintaan dan mengembangkan bahan dasar pembuatan kompos untuk pupuk tanaman pangan dan hortikultura yang siap dipakai. Bahan dasar tersebut telah diperdagangkan secara luas dengan kode perdagangan MFA Mikroorganisme Fermentasi Alami yang mana lokasi pembuatan di usaha penggemukan sapi dan domba. Fungsi ternak selain kotorannya dipergunakan untuk kompos juga sebagai lahan pertanian yang diusahakan langsung oleh Pondok Pesantren mencapai 14 hektar yang dibagi dalam enam kemandoran dan dikelola oleh para santri dengan sistem pengembangan Rawabogo dengan luas lahan 4 hektar terbagi dalam empat kemandoran dimana tiap-tiap kemandoran dipimpin satu orang mandor dengan melibatkan 80 santri sebaga tenaga pelaksana Sukahaji 1 ha, satu mandor dan 12 santri, Warung Tungtung 2 ha satu kemandoran dan 13 1 ha dipimpin satu mandor dan melibatkan 13 santri, Hanjung Beureum 2 ha satu mandor dan satu santri, Ciburial 3 ha satu mandor dan 22 1993 Pondok Pesantren Al Ittifaq mengadakan kerja sama jangka panjang dengan perusahaan mitra yakni Hero sekarang Giant Jakarta, Makro Jakarta, serta sejumlah pasar swalayan di sayuran dari pondok pesantren tersebut untuk pasar swalayan setiap hari pada Juni 1998 tak kurang dari lima 1997 untuk lebih meningkatkan kualitas usaha pertaniannya maka PP tersebut mendirikan Koperasi Pondok Pesantren Al Ittifaq Kopontren Alif. Melaui koperasi inilah produk sayuran yang dihasilkan oleh santri dan masyarakat dipasarkan ke berbagai supermarket di Bandung dan omset usaha agribisnis yang dijalankan Pondok Pesantren Al Ittifaq, Fuad mengungkapkan uang yang beredar setiap harinya Rp3 miliar atau setiap hari tak kurang sebanyak 3 mobil sayuran yang harus dikirim ke lima kelompok tani yang merupakan pendukung utama Kopontren yaitu Kelompok Tani One dengan jumlah anggota 380 petani dan luas lahan 68 Tani Al Ittifaq dengan anggota 326 orang santri dan guru dengan lahan 14 yang digarap oleh pondok pesantren. Komoditas yang diusahakan yakni sayuran, peternakan sapi dan domba, perikanan serta Tani Hasil Mekar Sayur HMS jumlah anggotanya 28 orang dan luas lahan 22 ha, Kelompok Tani Jampang Endah 18 ha dengan anggata 25 orang dan Kelompok Tani Tunggul Endah 9 ha serta 13 orang petani.Bagi para santri terutama pria, sebagai pengelola lapangan dikelompokkan berdasarkan minat dan ketrampilan. Setiap kelompok berkisar 10-20 orang, kecuali kelompok tertentu jumlahnya lebih sedikit seperti kelompok peternakan hanya 4-5 orang kerena populasi ternak masih tersebut setiap periode tertentu diputar agar semua santri merasakan dan mengetahui kegiatannya. Khusus santri wanita diberdayakan hanya melaksanakan kegiatan pengemasan, garmen dan menanamkan cinta agribisnis terhadap para santri dilakukan Fuad sejak dini sehingga yang terlibat dalam usaha tersebut dari yang berada di tingkat SD, SMP hingga yang tingkat SD umumnya dilibatkan dalam kegiatan budidaya, sedangkan santri setingkat SMP di bagian administrasi dan untuk SMA difokuskan pada santri yang terjun dalam bidang agribisnis setelah keluar dari pondok pesantren disarankan untuk dapat membentuk kelompok tani, selanjutnya hasil dari pertaniannya dikirim ke pondok pesantren Al di antara petani yang berasal dari alumnus santri Al Ittifaq yang berhasil menarik santri alumnus untuk bekerja di lahan usaha hanya itu adanya kegiatan agribisnis di Pondok Pesantren Al Ittifaq selain menguntungkan dan meningkatkan kesejahteraan bagi para pengelola dan santri-santri di pondok tersebut juga masyarakat melibatkan masyarakat setempat baik dalam memproduksi suatu komoditi maupun dalam pengembangan kelembagaan koperai Pondok Pesantren dan Balai Mandiri Pondok pesantren Al Ittifaq mengembangkan usaha agribinsi menjadikan pondok pesantren itu sebagai tempat magang atau pelatihan agribisnis dari santri-santri dari pondok pesantren lain di luar daerah, mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi, petani dari berbagai daerah di tanah air bahkan dari luar negeri. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Sumber Antara Editor Fatkhul Maskur Konten Premium Nikmati Konten Premium Untuk Informasi Yang Lebih Dalam Pesantrentersebut bernama Al Ittifaq yang ternyata sukses mencetak santrinya menjadi seorang wirausahawan. Dengan memanfaatkan potensi alam yang ada di sekitar pesantren, yaitu wilayah pegunungan berhawa sejuk, ponpes yang dipimpin KH Fuad Affandi tersebut, membina para santrinya yang mayoritas dari golongan ekonomi rendah, fakir miskin dan

Pesantren Al-Ittifaq menjadi contoh bagaimana sebuah institusi keagamaan mampu mandiri dalam sektor pangan dengan bertani. Selain mengaji, santrinya juga diajari bercocok tanam. Bahkan, Al-Ittifaq bisa mendistribusikan hasil pertaniannya ke pasar tradisional dan swalayan di daerahnya. Oleh Aminuddin Bandung, JAWA BARAT. Pondok pesantren sebagai tempat menimba ilmu agama terdengar biasa saja, tapi bagaimana dengan ponpes yang memupuk santrinya untuk juga belajar ilmu pertanian. Hal itulah yang diterapkan oleh Pondok Pesantren ponpes Al-Ittifaq, yang berlokasi di kampung Ciburial, Alam Endah, Rancabali, Kabupaten Bandung. Di pertenganah Juni 2020, di sebuah ruangan di pesantren yang digunakan sebagai ruang pengemasan, empat santri terlihat sibuk memilah sayur-sayuran. Tepat di tengah ruangan pengemasan tersebut terdapat meja berbentuk huruf U’ dan diatasnya tertumpuk aneka sayuran, baik yang sudah dikemas ataupun yang masih berada dalam keranjang sayuran. Celemek berwarna hitam terpasang menutupi bagian dada hingga lutut para santri. Selain menggunakan sarung tangan berbahan karet dan masker, kopiah pun tampak melekat menutupi bagian atas kepala santri-santri itu. Di bagian depan meja yang menghadap ke pintu masuk, salah satu santri sibuk memilah buncis yang memenuhi sebuah keranjang sayuran berukuran 60×40 cm. Di bagian kanan meja, santri lainnya memilah dan menimbang terong ungu, kemudian mengemasnya. Ruang pengemasan menjadi tempat bagi sebagian santri Al-Ittifaq melakukan aktifitas sehari-hari mereka. Biasanya, mereka bergiliran bekerja mengemas sayuran sejak pagi hari sehabis salat subuh hingga malam hari. Ketua Koperasi Pondok Pesantren Koponoen Al-Ittifaq, Agus Setia Irawan mengatakan berkebun dan beternak memang masuk dalam kurikulum pesantren. Bagi santri salaf di Al-Ittifaq, kegiatan mengaji hanya dilakukan setelah salat berjamaah lima waktu. “Istilahnya bertani menjadi bagian kurikulum di pesantren salaf atau tradisional. Jadi ngajinya itu selesai ba’da salat, sisa waktunya kita gunakan untuk kegiatan pertanian, packaging, peternakan juga,” kata Agus saat ditemui di Ponpes Al-Ittifaq, Kamis 18/6/2020. Beberapa santri Ponpes Al Ittifaq sedang sibuk mengemas aneka sayuran di ruang pengemasan Kopontren Al Ittifaq di Rancabali, Kabupaten Bandung 18/6/2020. Sumber Aminuddin Santri Al-Ittifaq dibagi menjadi tiga kelompok. Yang pertama bertugas di perkebunan untuk menanam, merawat hingga memanen hasil pertanian. Yang kedua, bertugas mengolah pasca panen meliputi pengemasan hingga mengurus rantai distribusi. Yang terakhir, bertugas mengurus ternak. Al-Ittifaq diasuh oleh Kiai Haji Fuad Affandi yang merupakan generasi ketiga pendiri ponpes Al-Ittifaq, pesantren yang sudah berdiri di kawasan dataran tinggi Rancabali sejak 1934. “Awal berdirinya ponpes Al-Ittifaq adalah pesantren yang hanya fokus pada pendidikan keagamaan,” jelas Fuad yang lebih akrab di panggil Mang Haji. Sepulangnya Mang Haji dari menimba ilmu di Ponpes Lasem, Jawa Tengah di tahun 1970, ia diberi mandat untuk mengganti peran bapaknya, Abah Haji Rifai sebagai pengasuh Ponpes. Di awal kepimpinannya, ia merubah kurikulum pesantren. Dasar pemikirannya sederhana, yaitu bagaimana caranya agar pesantren bisa lebih mandiri. Kala itu, bukanlah pekerjaan mudah untuk bisa menghidupi puluhan santri yang belajar di Al-Ittifaq. Alhasil pertanian pun dipilih Fuad untuk memenuhi kebututuhan pangan santrinya. “Santri semakin banyak, sedangkan namanya pesantren apalagi salafiyah kita tidak mengenakan biaya, jadi orang tua mengirimkan anaknya ke pesantren, maka jadi tanggungan pesantren,” bebernya. Al-Ittifaq kini memiliki luas lahan pertanian sekitar 11 hektar. Sebagian besar berada di sekitaran ponpes. Al-Ittifaq kini menjadi contoh pesantren yang mandiri di sektor pangan, dengan mengandalkan hasil pertanian dan peternakan sendiri untuk menghidupi santri sebanyak kurang lebih 550 orang. “Kita juga dapat hibah dari Perhutani seluas 30 hektar, itu statusnya HGU, dan sedang ditanami kopi,” ungka Mang Haji. Bahkan, dengan produksi sayur-mayurnya yang melimpah, Al-Ittifaq mampu menjual sayuran ke pasar tradisional dan swalayan di Bandung dan juga Jakarta. Saat ini Al-Ittifaq menjual sebanyak 63 jenis sayuran dan buah-buahan yang disalurkan ke gerai swalayan. Per harinya, Al-Ittifaq memasok 3,2 ton sayuran ke pasar. Sebanyak 60 persen menuju pasar tradisional, sedangkan sisanya menuju swalayan, restoran, dan hotel. Hasil pejualan sayuran itu diputarkan lagi oleh koperasi ponpes Al-Ittifaq sebagai modal pertanian, kebutuhan makan santri, dan kegiatan lain di pesantren seperti nikah masal, sunat masal, dan acara2 peringatan keagamaan seperti Maulis Nabi dan sebagainya. Pengembangan pasar melalui jaringan ponpes Butuh puluhan tahun bagi Al-Ittifaq agar bisa mandiri bahkan menjadi pemain kecil dalam menjaga ketahanan pangan di Indonesia. Jangkauan pasar yang mampu diakses Al-Ittifaq pun sudah semakin luas. Tingginya permintaan pasar, membuat Al-Ittifaq terus berevolusi menjadi pemasok sayuran mengandalkan jaringan ponpes. Agus menjelaskan, sekarang tidak semua sayuran yang dijual ke pasar merupakan hasil cocok tanam di Al-Ittifaq. Namun, pesantren kini juga sudah menjadi offtaker dari beberapa kelompok tani binaan Al-Ittifaq. Kepala Koperasi Pondok Pesantren Al Ittifaq, Agus Setia irawan menunjukan salah satu sayuran hasil pertanian di ruang pengemasan Kopontren Al Ittifaq di Rancabali, Kabupaten Bandung 18/6/2020. Sumber Aminuddin Ada 9 kelompok tani, dengan jumlah total anggota sebesar 270 petani, yang dibina Al-Ittifaq. Mereka merupakan alumni Al-Ittifaq di Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan Cianjur. Kesembilan kelompok tani ini rutin mengirimkan hasil tani mereka dua kali dalam sepekan. “Jadi karena ada ikatan antara kyai dan santrinya, kita tetap ada kegiatan keagamaan. Tiap malam Selasa dan malam Jumat, ada pengajian di pesantren. Selain mereka membawa hasil pertanian ke sini, mereka pun ngaji mingguan,” jelas Agus. Toat 40, petani binaan Al-Ittifaq, mengatakan kehadiran koperasi Al-Ittifaq telah sangat membantu dirinya. Sebelumnya,Toat biasa menyalurkan hasil pertanian ke tengkulak dengan harga murah. Namun, kini Toat menyalurkan komoditasnya melalui Al-Ittifaq dan menerima harga yang lebih layak. Toat bertani di lahan miliknya sendiri yang seluas sekitar 14 tumbak, atau hampir 200 meter persegi, dan memasok sekitar 6 jenis sayur-sayuran — selada, daun salam, daun pisang, wortel baby, pohpohan, dan buah bit. “Harga jualnya jauh. Saya kan packing sendiri itu per kg Rp untuk selada kriting. Itu kan kalau di pasar tradisional selada dijual ke bandar Rp. 5 ribu, tapi sekarang saya masih bisa jual lebih mahal,” kata Toat. Dalam skala lebih luas, sejak 2019, Al-Ittifaq bekerjasama dengan 16 pesantren lainnya untuk memaksimalkan potensi pertanian. Targetnya, adalah pada tahun 2024, Al-Ittifaq dan ke-16 pesantren itu bisa menjadikan Indonesia sebagai poros ekonomi syariah dunia. “[Tahun] 2019, kita coba transfer of knowledge, 2020 kita bikin greenhouse di 16 pesantren, nah Al-Ittifaq tidak punya anggaran, rata-rata satu pesantren butuh modal sekitar Rp 350 juta, kita coba ngobrol ke BI Departemen Ekonomi Keuangan Syariah, mereka support,” ungkap Agus. Salah satu pesantren yang bekerjasama dengan Al-Ittifaq, ponpes Bahrul Ulum, Jatinagara, Ciamis, menganggap kerjasama itu sangat menguntungkan karena membantu memaksimalkan potensi lahan yang dimilki pesantren. Bahrul Ulum memiliki lahan pertanian seluas 3 hektar. Kini sebagian lahan itu ditanami labu madu dan aneka sayuran khas dataran rendah. “Kami benar-benar terbantu dengan adanya bantuan kerjasama dengan Al-Ittifaq, sekarang kami bisa memaksimalkan potensi lahan yang kami miliki,” kata pimpinan ponpes Bahrul Ulum, Heri Heriyanto 45. Mereka berencana memiliki gudang hasil pertanian pada tahun 2022. Lalu, tahun berikutnya mereka ingin membangun pusat distribusi hasil pertanian di Majalengka. Maka pada tahun 2024, mereka menargetkan bisa mulai melakukan ekspor. Tiga langkah dari pinggir kantor Koperasi Al-Ittifaq, terdapat dua petak kolam ikan berukuran sekitar 30×40 meter. Ikan disana biasa ditangkap oleh santri untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Berjarak sekitar 50 meter dari Koperasi Pondok Pesantren Kopontren, berdiri megah beberapa greenhouse milik Al-Ittifaq. Udara terasa dingin saat Ekuatorial berkesempatan berkunjung ke salah satu greenhouse milik pesantren ini. Diantar oleh Muhammad Ruslan 28, santri yang bertugas di kebun, kami melewati pemukiman warga sebelum akhirnya tiba di greenhouse. Tidak ada batas seperti benteng ataupun pagar antara pemukiman warga dengan bangunan pesantren. Di dalam greenhouse, berjejer memanjang bedeng yang ditanami sayuran jenis bayam Jepang dan pakcoy. Di bagian tengah terdapat enam tong berwarna biru, berukuran jumbo berisi campuran air dan berbagai pupuk cair. Di pojok lainnya, ada mesin berbentuk persegi yang mampu mengendalikan penyiraman tanaman secara otomatis. Di atas mesin itu tergantung router wifi. “Sistem irigasi dan pemberian pupuk bisa otomatis. Ini bisa dikendalikan dari jarak jauh, ada aplikasinya di handphone,” jelas Ruslan. Salah satu greenhouse milik Pesantren Al Ittifaq, di Desa Alam Endah, Rancabali, Kabupaten Bandung, 18/6/2020. Sumber Aminuddin Menurut Agus, mentor yang melatih santri bercocok tanam berasal dari organisasi nirlaba bernama PUM Netherland Senior Expert. Selain itu, Ponpes pun didampingi pakar pertanian dari Japan International Cooperation Agency JICA. Menurutnya, ketahanan pangan bisa terwujud kalau ada kesinambungan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Makanya, sistem bertani dilakukan secara permakultur, dimana penanaman bermacam sayuran didesain agar terjadi kesinambungan dan stok pangan bisa terjaga sepanjang tahun. Konsep ramah lingkungan termasuk dalam sistem permakultur. Praktisi Ketahanan Pangan Yayasan Odesa, Basuki Suhardiman mengatakan sistem pertanian yang digagas Al-Ittifaq bisa menjadi contoh bagaimana pengentasan masalah ketahanan pangan dilakukan dari sebuah institusi keagamaan. Menurutnya, Mang Haji mampu menerapkan nilai ajaran Islam ke dalam konsep pertanian. “Apa yang dilakukan Al-Ittifaq itu contoh. Menurut saya pesantren yang seperti itu baru Al-Ittifaq, di Jabar. Dia punya lahan terbatas, ya udah pakai, bekas sisa makanan dijadikan pupuk untuk tanah. Itu dilakukan oleh Al-Ittifaq,” tukasnya. “Ini kan dari value Islam, jangan ada yang mubazir, itu teman setan, Kyai Fuad selalu bilang seperti itu,” tambahnya. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Tisna Umbara, mengatakan Al-Ittifaq menjadi pesantren percontohan bagi pesantren lain dalam mengembangkan pertanian modern. “Jadi kalau Al-Ittifaq mah sudah menjadi contoh pesantren. Kan itu unik ya ada kegiatan selain mengaji ada juga kegiatan pertanian yang luar biasa,” kata Tisna. Tidak terlalu terdampak pandemi Covid-19 Hampir seluruh sektor bisa dibilang lesu akibat pandemic COVID-19 yang kini menjangkiti dunia. Namun, tidak demikian dengan kegiatan pertanian di Al-Ittifaq. “Kalau aktivitas secara di lapangan tidak berubah, social distancing di kebun pasti jauh-jauh. Proses pasca panen kita disini dinilai oleh Albert Heijn perusahaan retail Belanda,” ucap Agus. Meskipun rantai pasokan Al-Ittifaq sempat terputus saat terjadi pandemi, dimana mereka tidak bisa mengirim barang untuk restoran dan hotel, tapi hal itu kemudian ditutupi oleh layanan belanja sayuran secara daring. “Kalau kitanya bersyukur, semua ada hikmahnya, contohnya sekarang Al-Ittifaq punya pasar online di ungka Agus. Petani asal Kabupaten Bandung, Hudan Mustakim 30 mengatakan wabah tidak terlalu berdampak pada sektor pertanian. Justru, Hudan mengaku cukup diuntungkan saat pandemi lantaran bisa menjual komoditasnya dengan harga tidak terlalu murah. “Kemarin tanam tomat, alhamdulillah harga cukup bagus, per kg bisa terjual Rp ke bandar. terus kan ditutup juga distribusi dari daerah lain jadi distribusi sayuran disini untuk pasar di wilayah Bandung cukup aman,” tukasnya. *Versi panjang dari liputan ini telah diterbitkan di pada tanggal 25 Juli 2020.

BiayaMasuk PONPES Al Muqoddasah Ponorogo. Nah, setelah diterima masuk menjadi santri uang biaya pendaftaran tersebut hanya sebagai pendaftaran. Mereka wajib membayar pendaftaran ulang atau disebut dengan biaya pangkal, biaya daftar ulang yang rincian adalah sebagai berikut: Sedangkan biaya pendaftaran ulang untuk santri lama sebesar: 4.230.000.
Pondok Pesantren Al Andalus adalah sebuah pondok pesantren terkemuka yang berlokasi di Sukamakmur putra dan Jonggol putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ponpes ini menawarkan sejumlah program unggulan seperti Tahfidz 30 juz, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan entrepreneurship. Dilansir dari situs resminya, biaya pendidikan di ponpes ini terdiri dari beberapa komponen, seperti biaya registrasi, biaya SPP per bulan, dan biaya daftar ulang tahunan. Update pendaftaran dan Biaya Pondok Pesantren Al Andalus Jonggol sumber Pondok Pesantren Al Andalus menyediakan beberapa jenjang pendidikan, yakni SMPIT dan SMAIT serta idad Lughawiy bagi santri putra dan putri. Jenjang SMPIT dan SMAIT di pondok pesantren ini menggabungkan kurikulum Tahfidz, Diniyyah, dan Bahasa Arab khas Pondok Pesantren Islam Internasional Al Andalus dengan kurikulum standar nasional. Seluruh santri pada masa akhir pendidikan memiliki dua ijazah, yakni pesantren dan negeri, sehingga memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Sementara itu untuk jenjang I’dad Lughawiy, merupakan program Bahasa Arab dan al quran intensif untuk para lulusan SMP/MTs umum luar SMPIT Pondok Pesantren Al Andalus selama 1 tahun sebelum melanjutkan pendidikan di SMAIT Al Andalus. Mata pelajaran yang diselenggarakan mencakup akidah, bahasa Arab, fiqh, hadits wa ulumuhu, kajian umum dan JT, kitabah, nahwu, qiro’ah, serta shorof. Untuk menunjang kegiatan belajar dan mengajar, sudah tersedia beragam fasilitas memadai mulai dari gedung sekolah yang nyaman untuk mendukung kegiatan belajar dan mengajar, masjid untuk ibadah harian para santri, asrama, workshop entrepreneurship, sarana olahraga berupa lapangan yang cukup luas, restorasi, minimarket, laboratorium komputer, laboratorium bahasa, hingga laboratorium IPA. Dilansir dari situs resminya, Pondok Pesantren Al Andalus membagi biaya pendidikan menjadi uang pendaftaran, uang pangkal meliputi uang gedung dan uang perlengkapan, serta SPP. Nah, bagi Anda yang berniat menyekolahkan anak Anda di Pondok Pesantren Al Andalus, berikut kami sajikan informasi terbaru biaya pendidikan untuk tahun akademik 2023/2024. Pondok Pesantren Al Andalus twitter pp_alandalusBiaya Pesantren Al Andalus Jonggol TA 2023/2024 Komponen Biaya Biaya Uang Pendaftaran Uang Pangkal Infaq, Perlengkapan, Seragam, Kegiatan Ekstra Tahun Pertama SPP Biaya Pendidikan, Asrama, Makan 3x sehari, Laundry maks. 20 kg per bulan Biaya Daftar Ulang per tahun menyesuaikan Informasi biaya masuk Pondok Pesantren Al Andalus di atas kami rangkum dari situs resmi institusi pendidikan yang bersangkutan. Jika dibandingkan tahun ajaran 2022/2023 lalu, biaya studi Pesantren Al Andalus Jonggol saat ini terpantau naik. Misalnya, biaya pendaftaran yang semula hanya Rp350 ribu, kini menjadi Rp550 ribu, Begitu pula biaya SPP yang naik dari Rp2,5 juta menjadi Rp2,75 juta per bulan. Biasanya, pihak Pondok Pesantren Al Andalus juga menyediakan beasiswa bagi anak yatim yang ingin mendaftar jenjang SMP atau beasiswa bagi yang lulus tes PPSB. Beberapa tahun lalu, calon santri yang lulus tes PPSB peringkat 1 memperoleh diskon 100 persen uang pengembangan, kemudian peringkat 2 lulus tes PPSB mendapat diskon 50 persen uang pengembangan, pendaftar dari kaum yatim dhuafa atau lulus tes 5 besar memperoleh beasiswa penuh, sedangkan yang lulus tes dan hafal 5 juz Al Quran juga mendapatkan diskon 100 persen uang pengembangan. Ilustrasi Salah Satu Kegiatan Keagamaan di Ponpes Al Andalus credit pesantren-alandalusSyarat Pendaftaran Pesantren Al Andalus Jonggol Mengisi formulir pendaftaran secara online. Membayar biaya pendaftaran sebesar Mengikuti tes seleksi sesuai jadwal yang telah ditetapkan. materi tes seleksi meliputi tes potensi akademik tulis, PAI, bahasa Indonesia, IPA, matematika, tes kepribadian tulis, tes Al Quran membaca dan menghafal, tes wawancara calon santri, dan wawancara wali calon santri. Menyerahkan fotokopi rapor SD/MI dari kelas 5, untuk SMP/MTs menyerahkan rapor dari kelas 8 yang telah dilegalisir sebanyak 1 lembar. Fotokopi NISN atau surat keterangan NISN sebanyak 1 lembar. Fotokopi akta kelahiran sebanyak 1 lembar. Foto seluruh badan berwarna dengan background bebas ukuran 4R sebanyak 1 lembar. Menyerahkan surat keterangan sehat. Mekanisme Pendaftaran Pondok Pesantren Al Andalus Calon santri wajib mengisi formulir pendaftaran secara online di situs resmi pondok. Mengirimkan uang atau infak pendaftaran sebesar ke rekening BRI Syariah nomor 1033-7383-62 atas nama Pesantren Al Andalus Putra. Tiga digit angka terakhir menggunakan tiga digit terakhir nomor kontak pendaftar yang dicantumkan di formulir. Misalnya, jika nomor kontak yang dicantumkan adalah 0838 1151 5951, maka nominal yang dikirimkan adalah Melakukan konfirmasi pendaftaran ke nomor Sekretariat PSB 0838 1151 5951 dan menyertakan bukti transfer. Panitia akan mengirimkan nomor dan jadwal pelaksanaan tes seleksi. Santri Pondok Pesantren Al Andalus sumber Pendaftaran Pesantren Al Andalus Jonggol TA 2023/2024 Kegiatan Jadwal Pendaftaran Gelombang II 1 Januari – 25 Februari 2023 Tes Seleksi Online 26 Februari 2023 Pengumuman 6 – 7 Maret 2023 Daftar Ulang 6 – 8 Maret 2023 Hasil seleksi penerimaan santri baru diumumkan via website resmi Pondok Pesantren Al Andalus. Jika Anda membutuhkan informasi lebih lengkap, Anda bisa langsung datang ke Jalan Raya Menteng KM 13, Kampung Cijurey, Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor untuk putra atau Jalan Raya Menteng KM 6, Dusun Kadupandak, Desa Balekambang, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor untuk putri. Selain itu, bisa juga menghubungi Sekretariat PSB di nomor ponsel 0838 1151 5951 dan Humas Al Andalus di nomor ponsel 0811 3920 135. [Update Ditta] Pos terkaitBiaya UNIS Universitas Islam Syekh-Yusuf Tangerang TA 2023/2024 Kelas Pagi dan SoreSyarat & Update Biaya Pembuatan Kartu Kuning AK-1Update Harga Diva Family Karaoke Cabang MalangUpdate Biaya Kursus Bahasa Jepang di JakartaBiaya Homeschooling di Malang TA 2023/2024Biaya Kuliah Universitas Trisakti Kelas Ekstensi TA 2023/2024
PondokPesantren Al-Ittifaq mendidik para santri dengan ilmu berwirausaha agribisnis di samping memberikan pembelajaran agama. yang berkeinginan nyantri sambil sekolah formal dimasukkan sebagai santri khalafi dengan membayar biaya pendidikan saat awal masuk pesantren sebesar Rp. 1.400.000,00 meliputi biaya pendaftaran, IPP bulanan, sarana
– Saat memasuki kawasan Pondok Pesantren Al-Ittifaq, kita akan disambut dengan aroma khas sayuran dataran tinggi yang menyegarkan. Ya, inilah pondok pesantren agribisnis yang menjalankan pertanian organik terpadu, kiprahnya bagi kemajuan masyarakat petani di sekitarnya tidak diragukan lagi. Pondok Pesantren Al-Ittifaq awalnya bernama Pondok Pesantren Ciburial, didirikan pada 1 Februari 1934 16 Syawal 1302 H oleh Mansyur. Pondok Pesantren ini berlokasi di Kampung Ciburial No. 18 RT03/RW10, Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Letaknya di ketinggian meter dari permukaan laut dengan suhu udara yang sejuk antara 19-20 0C dan curah hujan ratar-rata mm/tahun. Pesantren ini menggunakan metode salafiyah dalam sistem pendidikan pesantrennya. Materi yang diajarkan awalnya sama dengan pesantren-pesantren salafiyah lain di Indonesia, yaitu kitab-kitab klasik yang dikenal dengan kitab kuning. Pada tahun 1953, kepemimpinan pesantren berpindah kepada Rifai, putra Mansyur. Pada tahun 1970, tepatnya sejak kepemimpinan Fuad Affandi, putra Rifai, terjadi perubahan yang signifikan pada visi, misi, orientasi, tradisi dan program pembelajaran Pesantren Al-Ittifaq. Awalnya sektor pertanian tidak diminati oleh masyarakat karena tidak ada pengetahuan dalam bertani, akses jalan yang sulit dari lahan ke jalan raya, dan tidak tahu setelah panen mau dijual kemana. Padahal, mereka tinggal di atas hamparan tanah yang subur dan iklim yang cocok untuk bertani dan berkebun. Masyarakat di wilayah ini kebanyakan menyewakan tanahnya kepada orang-orang kaya yang datang dari luar. Hal inilah yang mendorong Kiai Fuad menekuni bidang agribisnis agar masyarakat Ciburial bisa menjadi tuan di daerahnya sendiri. Pengembangan ekonomi pesantren Al-Ittifaq berangkat dari fenomena yang terjadi di lingkungan pondok pesantren tersebut. Setelah melakukan pengamatan dan pemahaman terhadap realitas kebutuhan masyarakat, Fuad Affandi melakukan pembaharuan. Pertama, pengubahan nama pesantren yang semula bernama Pesantren Ciburial menjadi Pesantren Al-Ittifaq. Kedua, mengubah orientasi dan visi pesantren. Ketiga, membangun infrastruktur pesantren, yaitu membangun asrama, jaringan listrik, sarana jalan, perbaikan mesjid dan tempat belajar. Keempat, membangun kerjasama dengan berbagai pihak, baik dengan pemerintah, perguruan tinggi dan LSM. Kelima, melakukan pengembangan pembelajaran melalui penerjemahan kitab-kitab standar yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Sunda. Pembaharuan tersebut ternyata membuahkan hasil yang cukup efektif sebagai modal untuk pengembangan pesantren selanjutnya. Mulai Tahun 1970 Fuad Affandi mencoba memadukan antara kegiatan keagamaan dengan kegiatan usaha pertanian agribisnis di pondok pesantrennya karena sesuai dengan potensi alam yang ada di sekitar pesantren. Ada dua alasan Pondok Pesantren Al-Ittifaq menerapkan pendidikan di sektor pertanian. Pertama, hampir 90% santri Al-Ittifaq adalah santri kurang mampu. Kedua, 100% santri yang masuk ke pondok pesantren tidak mungkin secara keseluruhan keluar akan menjadi ulama. Adanya pelatihan di sektor pertanian diharapkan mampu mendorong santri untuk mengembangkan karir di bidang agribisnis setelah lulus. Santri didorong untuk mandiri dan belajar tauhid sehingga diharapkan mampu mengajarkan ilmu agama yang diimbagi dengan berkarya. Kegiatan usaha pertanian agribisnis berlangsung hingga sekarang, bahkan menjadi tulang punggung kegiatan pesantren. Pondok Pesantren Al-Ittifaq saat ini dijadikan sebagai tempat magang atau pelatihan agribisnis dari santri, mahasiswa, dan petani yang berasal dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri. Kegiatan agribisnis yang dilakukan pesantren ini menghasilkan efek yang luar biasa terhadap kelangsungan proses pendidikan di Pondok Pesantren Al-Ittifaq. Hasil dari kegiatan agribisnis dapat digunakan sebagai sarana untuk pemenuhan kebutuhan warga pesantren. Produk yang dihasilkan dari kegiatan agribisnis memiliki nilai keunggulan kompetitif dan komparatif sehingga Pondok Pesantren Al-Ittifaq dijadikan sebagai laboratorium dalam menumbuhkembangkan jiwa mandiri dan wirausaha santri. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan oleh Pondok Pesantren Al-Ittifaq, yaitu mencetak santri yang berakhlak mulia, mandiri, dan berjiwa wirausaha. KH Fuad sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk memberdayakan pondok pesantren bersama warga, supaya mandiri dengan mengelola lahan subur di sekitar yang selama ini tidak digarap. Usaha bertahun-tahun tersebut mulai dari membangun akses jalan bersama warga, menanam komoditi yang sudah jelas pasarnya, hingga mengatur keuangan para petani supaya cukup untuk sehari-hari dan cukup untuk pembiayaan musim tanam berikutnya. Semangat Mang Haji Fuad, panggilan akrab warga kepada KH Fuad Affandi, tercermin dalam ungkapannya yang terkenal Jangan sampai ada sejengkal tanah yang tidur Jangan sampai ada sedikit waktu yang nganggur Jangan sampai ada sehelai sampah yang ngawur “Jangan sampai ada sehelai sampah yang ngawur”, maksudnya sayuran yang rusak dan tidak lolos sortir menjadi pakan ternak dan ikan, kotoran dari unit peternakan masuk kedalam reaktor biogas dan menjadi pupuk untuk musim tanam selanjutnya. Semua dapat merasakan manfaatnya. Seiring perjalanan waktu, orientasi pesantren diperluas dan diperjelas. Pesantren diorientasikan pada pengembangan masyarakat, yang menekankan pada pemberdayaan masyarakat dhuafa miskin, fakir, dan yatim-piatu dan masyarakat sekitar melalui pendekatan agama dan perekonomian. Untuk itu, pesantren melakukan diversifikasi jenis pendidikan, yaitu pendidikan keagamaan yang berorientasi pada tafaqquh fiddin, pendidikan formal khalafi, dan pendidikan nonformal dalam bentuk pendidikan keterampilan life skill. Oleh karena itu, para santri juga dibekali kemampuan agribisnis agar setelah lulus dapat mandiri. Alumni santri tani dari ponpes Al-Ittifaq banyak yang kembali ke tempat asal dan membangun sektor pertanian di daerahnya. Jumlah santri yang dibina sekitar 1200-an. Sebagian besar 59% santri berasal dari Kecamatan Ranca Bali dan sekitarnya. Mereka umumnya berasal dari keluarga yang tidak mampu, dengan latar pendidikan orang tua sebagian besar setara SD. Untuk mendukung usaha agribisnisnya, yayasan ponpes Al Ittifaq membentuk koperasi yang disebut Koperasi Pondok Pesantren Alif dengan akte pendirian 6 Juni 1997. Kopontren Alif memiliki enam unit usaha, yaitu unit sarana produksi, apotek, waserda, unit pemasaran, koperasi simpan pinjam dan unit agribisnis yang terdiri atas unit pertanian, unit peternakan dan perikanan. Unit sarana produksi adalah unit usaha yang bertanggung jawab untuk mengatur ketersediaan input untuk keperluan usahatani. Input-input yang dihasilkan antara lain pestisida organik ciknabat, innabat, sirnabat, betapur dan bakteri komposer MFA. Unit Pemasaran melakukan pemasaran komoditi sayuran ke pasar-pasar swalayan seperti Hero, Superindo, Makro dan lainnya. Unit agribisnis adalah unit usaha yang paling berperan bagi ponpes. Unit ini membawahi unit pertanian, peternakan dan perikanan. Beberapa usaha komersial yang bergerak dalam bidang agribisnis yang dikelola oleh Pondok Pesantren Al- Ittifaq adalah budidaya dan pemasok sayuran dataran tinggi, serta usaha peternakan sapi perah dan penggemukan domba. Sedangkan usaha pembuatan pupuk organik dan budidaya ikan tidak dikomersialkan karena tujuannya hanya untuk memenuhi kebutuhan usahatani dan konsumsi harian santri dan keluarga ponpes. Unit pertanian adalah bagian yang bertanggung jawab mengurus kegiatan usahatani sayuran ponpes. Unit peternakan dan perikanan bertanggung jawab mengurus peternakan dan pembudidayaan ikan. Kegiatan yang dilakukan unit ini berupa penjualan susu murni, penjualan ternak untuk Hari Raya Idul Adha dan berbagai acara lainnya. Budidaya sayuran dataran tinggi dilakukan di atas lahan seluas kurang lebih 16 ha dengan menggunakan sistem pola tanam atau pergiliran tanaman. Hal ini dilakukan untuk menjaga kontinuitas produksi guna memenuhi permintaan harian dari supermarket di Bandung dan Jakarta. Sayuran yang ditanam adalah wortel, tomat, buncis, kubis, bawang daun dan cabai. Namun, komoditas yang ditanam dapat diubah sesuai keperluan. Kegiatan usaha peternakan meliputi ternak sapi perah dan domba. Tujuan diadakan ternak ini adalah untuk memanfaatkan limbah sayuran yang dihasilkan setiap hari oleh ponpes. Dengan adanya ternak, limbah pertanian sayuran dapat dimanfaatkan sebagai pakan dan sebaliknya, limbah ternak dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Selain kompos, ponpes menggunakan input usahatani buatan sendiri dalam usahatani yang dijalankannya. Obat-obatan yang digunakan merupakan obat-obatan alami yang diramu sendiri menggunakan bahan-bahan yang tersedia di sekitar ponpes. Obat-obatan tersebut telah terbukti penggunaannya dalam memproduksi sayuran yang berkualitas dan terbebas dari hama penyakit. Kopontren Alif menjadi off taker hasil panen dari lahan pertanian seluas 130 hektar milik 270 petani yang tergabung dalam 6 kelompok tani di Kabupaten Bandung dan Bandung Barat. Para petani menjalankan pola tanam sesuai dengan permintaan pasar sehingga mereka hanya menanam yang sudah jelas pembelinya sehingga Kopontren Alif mampu menyuplai sayuran setiap hari sepanjang tahun dengan konsisten. Kopontren Alif menyediakan sayuran dan buah segar sesuai dengan permintaan dari modern market seperti Superindo, Yogya group, Aeon, dan Horeka di Bandung dan sekitarnya. Volume pengiriman sayuran segar setiap harinya tidak kurang dari 3 ton. Dengan standar Good Agriculture Practices dan Good Handling Practices, sayuran dari Kopontren Alif aman untuk dikonsumsi, sekaligus meminimalisir food loss yang mungkin terjadi. Sebagian keuntungan penjualan hasil pertanian selain dibagikan kepada para petani, juga digunakan untuk operasional pondok pesantren, dimana 30% santrinya berasal dari keluarga tidak mampu sehingga biaya hidup makan sehari-hari dan pendidikan mereka ditanggung oleh pondok pesantren. Keren abis, kan? Setelah Kyai Fuad Afandi memimpin selama 40 tahun lebih, tidak hanya menempatkan Pondok Pesantren Al-Ittifaq sebagai pesantren agribisnis “termaju” di Indonesia, tetapi juga berkontribusi mengembangkan komunitas pesantren dan masyarakat sekitar menjadi masyarakat maju, sejahtera, produktif, sekaligus relijius. Kyai Fuad kini telah wafat, meninggalkan amal soleh dan amal jariyah yang luar biasa. Semoga kita dapat meneladaninya. das Kunjungi Nursery Tanaman Hias Keren di Kota Bogor, Ini Link-nya IG Tiktok Yuk, tonton video menarik ini

BiayaMasuk Pondok Pesantren Asshiddiqiyah - Bagi sebagian besar masyarakat di wilayah Jakarta, pastinya mereka sudah tidak asing lagi dengan nama Pondok Pesantren Asshiddiqiyah. Dimana Pondok Pesantren Asshiddiqiyah sendiri merupakan lembaga pendidikan berbasis agama Islam yang terletak di Jakarta. Saat ini Pondok Pesantren Asshiddiqiyah sudah menyediakan beberapa jenjang pendidikan kepada

PonpesAl-Ittifaq Jadi Percontohan Nasional Digitalisasi Pertanian. Ponpes Al-Ittifaq Jadi Percontohan Nasional Digitalisasi Pertanian. REPUBLIKA.ID; REPUBLIKA TV; GERAI; IHRAM; REPJABAR; REPJOGJA; RETIZEN; BUKU REPUBLIKA; REPUBLIKA NETWORK; Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022
Berikutinformasi pendidikan, pendaftaran, dan biaya masuk di tahun 2022-2023. Skip to content. Panduan Terbaik. Hadirkan Panduan dan Yang Terbaik di Indonesia Lebih lengkap bisa melihat video yang kami sertakan agar melihat bagaimana lingkungan di pesantren. Biaya Pendaftaran Pesantren Al Izz. Pendaftaran: Rp150.000: Infaq Awal: Rp1.000.
AlIttifaq juga menggandeng pesantren lain dalam memproduksi sayuran tersebut. "Ini sudah jalan dan bukan peluncuran, sekarang kita sudah memasok sekitar 7 ton per hari dari kebutuhan 56 ton. Maka dari itu akan Al Ittifaq ini akan menggandeng Pesantren lain untuk memproduksi sayuran dan buah buahan baru masuk ke ritel modern.
RHf715.
  • t5sh8as8ub.pages.dev/624
  • t5sh8as8ub.pages.dev/916
  • t5sh8as8ub.pages.dev/519
  • t5sh8as8ub.pages.dev/795
  • t5sh8as8ub.pages.dev/923
  • t5sh8as8ub.pages.dev/251
  • t5sh8as8ub.pages.dev/906
  • t5sh8as8ub.pages.dev/847
  • t5sh8as8ub.pages.dev/252
  • t5sh8as8ub.pages.dev/360
  • t5sh8as8ub.pages.dev/241
  • t5sh8as8ub.pages.dev/680
  • t5sh8as8ub.pages.dev/979
  • t5sh8as8ub.pages.dev/77
  • t5sh8as8ub.pages.dev/780
  • biaya masuk ponpes al ittifaq